bila sang bunda melahirkan tanpa bidan…

13 Aug


Berawal kunjungan teman lama dari pemalang ke tempat saya condet di siang itu dengan teduhan pohon duku yang masih bertengger di seberang rumah (saya lupa cerita ini sekitar 2 tahun yang lalu). “Pak Fulan Pemalang (maaf, namanya disamarkan)” saya memanggilnya. Seperti biasanya, bila kedatangan tamu maka sang penghuni rumah memuliakannya. Ini berkaitan dengan nasehat/anjuran dari manusia termulia di alam semesta yaitu Rosululloh shollollohu alaihi wasallam terhadap tamunya … “Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)”.
Sambil berbincang hal-hal yg sederhana hingga sampailah sebuah kisah dirinya dan istrinya yang sedang hamil dan kemungkinan akan segera melahirkan dalam hitungan sekitar 5-6 hari. Ternyata benar istrinya melahirkan di rumah temannya di daerah jalan pedati raya Jakarta timur. Takdir telah menetapkan istrinya melahirkan tanpa suaminya hanya ditemani sang punya rumah. Seperti biasanya pak fulan dan istrinya melahirkan tanpa bidan. Bagaimana caranya? Bagaimana mungkin? Begitukah?. Cerita ini sungguh langka dan super dahsyat!!!.. namun sayapun teringat kisah maryam binti imron (alaihima salam). Nabi shollollohu alaihi wasallam telah menetapkan dalam sabdanya “sebaik-baik wanita pada masanya adalah maryam binti imron” (HR. Bukhori dan Muslim). Iringan hadits ini telah ditetapakan di dalam Al-Quran yg berbunyi:
وَإِذْ قَالَتْ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah Telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (Q.S. Ali ‘Imran:42).
Sudah berapa kalikah kita mendengar tentang kisah sang maryam binti imron alaihima salam, terutama bagi sang calon bunda, atau sang bunda yang telah melahirkan anaknya yang pertama, kedua dan seterusnya?
Sudah berapa kalikah duhai bunda membayangkan kisah Maryam melahirkan putranya Isa bin Maryam alaihima salam tanpa bantuan seorangpun bahkan bidan?
Bukankah semua perkara sudah diputuskan baik masuk akal/tidak? Sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَانَ أَمْراً مَقْضِيّاً
dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.(Q.S. Maryam: 21)
Bukankah maryam mengandung puteranya selama Sembilan bulan dan melahirkan sesuai waktunya sebagaimana yang dialami para wanita yang lain?
Bukankah makanan yang terbaik bagi orang yang menjalani nifas/hamil dan melahirkan itu tamar/kurma dan ruthab/sejenis kurma? Sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan makanan terbaik utk hambanya:
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيّاً- فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.
(Q.S. Maryam: 25-26)

Sang Fulan itu melanjutkan kisah istrinya yang melahirkan tanpa bidan secara alamiah:
1.Sang jabang bayi ketika mau keluar dari rahim (sesuai waktu yang Alloh Subhana wa Taala tetapkan), maka posisi bayi dlm keadaan meluncur terbalik dan terlungkup seaakan-akan dlm posisi menceburkan diri ke kolam renang dan ketika kepala sudah keluar dari rahim maka posisi badan secara alamiah menyimpang sesuai irisan kemaluan sang bunda (mohon maaf). Dan cairan ketuban secara spontan membantu pergerakan sang bayi. Dan sang bayi mengembalikan posisinya menghadap ke langit dlm keadaan terlentang.
2.Maka sang bunda membersihkan bagian yang penting dari badan bayi dan memberikan air susunya pertama kali bagi sang bayi
3.Setelah sang bayi kenyang , maka sang bunda menyiapkan operasi kecil dgn memotong tali pusar yang memanjang yang berujung pada pusar bayi dan bagian dalam rahim sang ibu dgn memberikan antiseptik dan penyeterilan alat seperti betadin cair dan gunting serta benang kasur yang sudah disterilkan
4.Begitulah proses melahirkan yang begitu sederhana.

Masya Alloh, saya mendengarnya dan siapkah dgn cerita ini mempraktekkannya wahai bunda dan ayah?
Smoga ..

Sumber:
Syaikh Salim bin Ied al-Hilali 2009 Kisah Shahih Para Nabi Pustaka Imam Syafii Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: